Tampilkan postingan dengan label HISTORI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HISTORI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Maret 2013

Kelahiran Sinaga : Antara Ketakukan dan Mitos


Sianjur Mula-Mula adalah kampung dari Saribu Raja dengan ketiga saudara lelakinya yakni Limbong  Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja dengan kelima saudarinya yakin Boru Pareme,  Boru Bidding Laut, Nai Ambaton, Nai Suanon, Nai Rasaon.
Hariara Maranak Situs bersejarah Pomparan Raja Lontung, yang pagarnya sempat dirusak orang tak di kenal beberapa waktu lalu (photo milik: deltapariranews.com)

Di dekat Sianjur Mula-mula itu ada tempat yang bernama Ulu Darat, dimana dipercaya saat itu sebagai hutan keramat. Mitos pusuk buhit menyebutkan bahwa dibawah tempat itulah posisi kepala dari Naga Padoha berada, yang dalam legenda dianggap sebagai penjaga Banua Tonga (Bumi). Ekornya ada di laut setelah di benamkan oleh Boru Deak Parujar (baca Legenda Boru Deak Parujar).

Di hutan inilah tempat persembunyian Saribu Raja dan Boru Pareme yang telah melakukan perkawinan sedarah. Begitulah juga Si Raja Lontung dengan istrinya (yang merupakan ibunya sendiri) Boru Pareme bersembunyi. Dalam bayangan intaian saudara-saudaranya yang menginginkan darah Si Raja Lontung dan Boru Pareme yang sedang hamil juga bersembunyi di daerah itu. Daerah kramat yang dipercaya tidak akan di masuki oleh saudara-saudaranya.
Tidak begitu jelas siapa yang menunjukkan tempat itu, tetapi disitulah lahir Bayi hasil hubungan insect itu. Seorang bayi yang lahir di tempat yang dianggap sangat angker, tempat yang dianggap sebagai kepala tempat peristirahatan Naga Padoha. 

Dan kelahiran bayi itu dianggap sebagai anugrah luar biasa mengingat keramatnya tempat itu, sehingga Raja Lontung memberi nama anak yang aru lahir itu: SINAGA, karena lahir tepat diatas bagian kepala dari peristirahatan Naga Padoha penjaga Banua Tonga (Penjaga Bumi), dan kelahirannya sudah memecahnya Mitos keangkeran tempat istiraha dari Naga Padoha penjaga Banua Tonga.
Akhirnya ketahuanlah telah lahir bayi itu, bayi tak berdosa yang di beri nama: Sinaga, anak dari Siraja Lontung dengan Boru Pareme oleh Limbong Mulana, Sagalaraja dan Silau Raja, maka berencanalah mereka membunuh Si Raja Lontung dan Anaknya Sinaga, dengan alasan untuk memenuhi hukum atau kelakuan Saribu Raja, Si Raja Lontung dan Boru Pareme, yang telah membuat aib besar dikalangan keturunan Guru Teteabulan.

Disinyalir ada kepentingan dari Limbong Mulana atas hak kesulungan dari Guru Teteabulan, meski pada akhirnya teori ini bisa digugurkan karena akhirnya semua keturunan Guru Teteabulan diluar Lontung. Bergabung dan mengangkat Putra kedua Saribu Raja yaitu Raja Borbor sebagai pewaris Utama dari Turunan Guru Teteabulan (Raja Ilontungan) yaitu dengan memberikan hak kesulungan pada keturunan Raja Borbor untuk mempimpin Klan Guru Teteabulan yang selanjutnya dikenal sebagai Nai Marata dan diwariskannya semua peninggalan Saribu Raja pada keturunan Raja Borbor.

Terlihat juga dari Peran Pandita Raja (Pendeta Raja) dari Naimarata yang di pegang oleh Jonggi Manaor yang bermarga Pasaribu (Toba Na Sae - Sitor Situmorang).
Keluarga itu terus bersembunyi paska kelahiran Sinaga, dan tepat sebulan setelah kelahiran Sinaga terdengar lah berita bahwa keluarganya akan datang untuk membunuh mereka lalu mereka meninggalkan daerah itu dan mengungsi jauh melawati Danau kearah Samosir Selatan. Itulah tempat itu diberikan nama Sabulan, karena hanya sebulanlah setelah Sinaga Lahir ditempat itu. 
Dan menurut cerita yang didapat penulis Malau -lah (putra Silau Raja) yang membantu pelarian Raja Lontung, Boru Parema dan Sinaga.
Itulah alasan utama terusirnya marga Malau dari Sianjur Mula-Mula dan mengapa tua-tua  diantara kalangan Raja Lontung ada keinginan dan sebagian malah menempatkan turuna Silau Raja sebagai Hula-Hula dari semua keturunan Raja Lontung. Mengenang jasa dan beban yang ditanggung Malau ketika menyelamatkan Moyang keturunan Si Raja Lontung.

Dalam perjalanannya menyeberangi danau kearah Samosir tibalah dia disuatu tempat yang di kenal saat in sebagai Urat. Siraja Lontung menancapkan tongkatnya dan tumbuhlah pohon dari tongkat itu (dan selanjutnya tumbuh anak pohon itu, maka disebutlah tempat itu sekarang sebagai Hariara Maranak).
Merasa bahwa tempat itu adalah tempat yang terbaik baginya dan keturunanya menetaplah Si Raja Lontung di tempat itu.
Dan Situmorang, Pandiangan,  Naingolan, Simatupang, Aritonang dan Siregar dan kedua Putrinya: Si Boru Amak Pandan (yang dipersunting oleh Simamora) dan Si Boru Panggabean (Yang dipersunting oleh Sihombing) lahir di Hariara Maranak – Urat tersebut.
Dari Cerita leluhur diatas maka selayaknya kita keturunan Si Raja Lontung dan Sinaga dapat mengambil 3 pelajaran penting bahwa:
  1. Keturunan Si Raja Lontung (terutama Sinaga) punya hutang besar pada Malau (selanjutnya di sebut seluruh keturunan Silau Raja – Malau Raja) , maka selayaknya kita menghormati mereka yang telah menolong moyang kita. Dan menurut beberapa cerita juga Silau Raja juga punya andil dalam menyelamatkan Saribu Raja, Si Boru Pareme dan Si Raja Lontung dan selanjutnya anaknya Malau juga melakukan hal yang sama menolong Si Raja Lontung,  Boru Pareme dan Sinaga.
  2. Bahwa Aib yang telah dilakukan oleh moyang kita bukan lagi hal yang harus kita tutupi atau bahkan kita ulangi, perjuangan dari Moyang kita sehingga Klan Lontung tegak berdiri di Toba yang tidak tunduk pada Siapapun (Toba Na Sae – Sitor Situmorang) adalah jerih perjuangan nenek  moyang kita pastinya dalam kebersamaan dengan semua Pomparan Lontung dalam kesatuan yang kuat dan Kokoh Sejak dulu, menghadapi tekanan dan ancaman di tengah aib itu yang bisa jadi sulit untuk menceritakan lagi, tetapi ingatlah bahwa moyang kita telah melakukan sesuatu untuk yang pastinya luar biasa sehingga kita ada dan bisa berjalan dengan kepala tegak hingga akhir ini.
  3. Sinaga lahir dengan memecahkan mitos keangkeranUlu Darat, tempat Kepala dari Naga Padoha yang sebagai Penjaga Banua Tonga, termasuk penyebab Gempa Bumi, maka ingatlah Semangat bahwa keturuannya juga jadilah pendobrak dari kebuntuan dan ketidakpastian yang ada dalam lingkungannya.
  4. Sinaga adalah putra tertua Si Raja Lontung menurut kelahiran.

Jumat, 02 September 2011

TANJUNG BALAI TEMPO DOELOE

Konon katanya Tanjung Balai merupakan kota pelabuhan terpenting di Sumatra Utara, bahkan dahulu orang ke Mekkah dalam rangka menunaikan Ibadah Haji diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Balai yang dulunya lokasi pelabuhan Tanjung Balai ini disebut Bom. Bukti sejarah lainnya tentang pentingnya Kota ini pada jamannya adalah adanya rel keretapi yang dibangun Perusahaan Belanda DSM (Maskapai Kereta Api Deli)  hingga kepinggir pantai Tanjung Balai dan pelabuhan Teluk Nibung

Kini sisa-sisa pelabuhan bersejarah ini hampir habis, disamping sungainya terjadi pendangkalan (tak pernah diuruk) dan pelabuhan antar pulaunya dipindah ke pelabuhan Teluk Nibung. Begitu banyak bangunan bersejarah di Tanjung Balai ini yang punah (bahkan dipunahkan), sangat disayangkan jika kita mengingat bahwa potensi wisata sejarah ini bisa menjadi sumber pendapatan daerah.

Tapi...pemimpin kota bersejarah ini dari dahulu hingga sekarang tampaknya kurang sadar wisata dan kurang kreatif. Banyak sekali putra daerah Tanjung Balai yang berpotensi kreatif namun sangat disayangkan pemerintah daerah kurang bijak dan proaktif membedayakan mereka. Pengembangan kota Tanjung Balai sebagai tujuan wisata religi,wisata bahari,wisata budaya adalah merupakan potensi besar sebagai sumber pendapatan masyarakat (mengingat kota ini tergolong minus dan lahannya yang sempit). Putra-putri daerahnya yang banyak bertebaran diperantauan kurang diperhatikan.

Letak strategis kota ini yang berseberangan dengan Malaysia dan Singapura seharusnya menjadi pertimbangan optimis dalam mengembangkan berbagai infrastruktur agar mendorong minat turis mancanegara untuk berkunjung ke kota bersejarah ini. Jarak tempuh kapal laut dari Tanjung Balai ke Malaysia lebih kurang 9 jam. Banyak lagi hal-hal lain yang dapat dikembangkan di Tanjung Balai ini demi kesejahteraan masyarakat sehingga Tanjung Balai ini tidak terus menerus terkelompok dalam daerah minus. Persoalan sempitnya lahan (wilayah) yang dimiliki seharusnya tidak menjadi alasan terbelakangnya kota ini demikian juga soal dana, semuanya tergantung pada daya kreatif dari pemimpinnya serta para cendekiawan putra daerah Tanjung Balai ini.

Balai di Ujung Tanjung

Kata sejarah Tanjung Balai berawal dari ditemukannya Balai diujung Tanjung..

Minggu, 24 Oktober 2010

Peranan Kerbau Dalam Kehidupan Etnis Batak

Oleh : Nenggih Susilowati**
KERBAU (Bubalus bubalis) atau horbo dalam bahasa Batak, merupakan hewan paling penting peranannya dalam kehidupan suku-suku di Nusantara. Jenis hewan yang termasuk famili bovidae ini sudah dikenal sejak masa prasejarah. Terbukti dari beberapa fragmen tulang dan giginya yang ditemukan pada ekskavasi beberapa situs di Indonesia.
Di Sumatera, situs-situs yang mengandung temuan tersebut antara lain situs Gua Togindrawa, Nias dan Situs Bukit Kerang Pangkalan, Aceh Tamiang. Temun di kedua situs mesolitik itu menunjukkan, adanya pengkonsumsian jenis hewan famili bovidae.
Kemudian di daerah lain, yaitu pada situs megalitik, juga ditemukan bagian gigi kerbau (bovidae) pada kubur batu (phandusa) di Bondowoso. Ditemukan pula pada dolmen di situs Telagamukmin, Lampung Utara, serta tulang-tulang hewan ini di bawah menhir di Wonogiri (Sukendar,1990:215).
Dalam bentuk karya seni, hewan ini juga sering dijumpai pada tinggalan-tinggalan budaya megalitik, dalam bentuk patung, relief, maupun lukisan. Di Tanjung Ara dan Kotaraya Lembak, Sumatera Selatan, misalnya, ditemukan peti kubur batu dengan lukisan pada dinding. Menggambarkan tangan dengan tiga jari manusia dan kepala kerbau.
Di Airpurah, Sumatera Selatan, juga ditemukan patung dua orang prajurit yang berhadap-hadapan. Seorang memegang tali yang diikatkan pada hidung kerbau, yang lain memegang tanduk kerbau (Soejono,ed.,1993). Penggambaran kerbau dan manusia mempunyai hubungan dengan konsepsi pemujaan nenek moyang (De Bie dalam Soejono,ed.,1993:216).
Kemudian di Terjan, Jawa Timur, ditemukan arca-arca kepala yang menyerupai kerbau pada kubur batu (Sukendar,1990:216). Pahatan kerbau terdapat pada sarkofagus di situs Munduk Tumpeng, Bali yang dikaitkan dengan lambang kesuburan dan kendaraan arwah (Aziz,1999:3).
Kerbau sebagai ornamen di berbagai etnis
Kerbau hingga kini masih dipilih sebagai ornamen. Atau bagian tubuhnya dijadikan sebagai hiasan pada rumah-rumah adat, seperti rumah adat masyarakat Toraja, di Sulawesi Selatan. Kepala kerbau dalam khazanah simbolis orang Toraja disebut kabongo’. Penggunaan kepala kerbau sebagai artikulasi simbolik dapat ditemui pada tiang tongkonan (Tulak Somba).
Kepala kerbau dalam passura’ dapat dikenal melalui berbagai desain. Untuk variasi ini dikenal dengan pa’tedong, yang berkaitan dengan kekuasaan/kepemimpinan suku. Di Nias Selatan, simbol sejenis yang dikenal sebagai Hugolaso. Hanya berlaku untuk ketua kampung keturunan Si Ulu.
Di luar Indonesia beberapa kelompok suku Naga di dataran tinggi Assam, antara Myanmar dan India, menggunakan tanduk kerbau sebagai tanda kebesaran, status sosial tinggi, prestise, dan kekuasaan politik atas kelompoknya (Wiryomartono,2001:158).
Menarik bahwa di beberapa tempat di Indonesia, baik pada situs megalitik maupun masyarakat yang hidup dengan tradisi megalitik, kerbau digunakan sebagai simbol maupun pemanfaatan praktis.. Di Sumatera Utara, ornamen kerbau atau bagian tubuhnya juga digunakan oleh masyarakat Batak pada rumah-rumah adatnya.
Kerbau, budaya materi dan makna simboliknya
PENINGGALAN arkeologis berupa patung dan relief kerbau terdapat di punden berundak Situs Batu Gajah, Simalungun. Letak bangunannya pada tempuran dua sungai mengingatkan pada konsep bangunan suci Hindu – Buddha. Situs megalitik tersebut kemungkinan berkembang pada masa yang hampir sama, ketika pengaruh Hindu – Buddha bersemi di Padang Lawas sekitar abad ke- XI — XIV M.
Patung kerbau terletak di sebelah barat patung harimau sekitar 34,5 m pada undakan/teras keenam. Posisi patung berdiri agak miring ke kiri dan menghadap ke timur. Secara keseluruhan patung ini cukup besar. Kondisinya sebagian besar sudah mulai aus, sehingga bentuk anatomi tubuh terutama bagian kepala sudah tidak kelihatan.
Bagian kepala cukup besar, namun kondisinya sudah sangat aus. Pada bagian kiri dan kanan kepala bentuknya agak lebar. Bagian depan kepala terdapat bentuk yang menonjol. Dan di bagian bawahnya, terdapat bentuk hampir persegi empat yang bagian belakangnya menyambung ke bagian bawah kepala.
Bagian badan tambun, dengan perut buncit. Bagian pantat berbentuk bulat dan besar disertai gambaran alat kelamin jantan. Di atas badan binatang ini terdapat relief sebagian tubuh penunggangnya yang tampak pada bagian kanan patung. Bagian tubuh penunggang patung ini yang digambarkan adalah sebagian badannya, kaki kanan, dan tangan kanan. Pada bagian belahan pantat terdapat buah pelir sedangkan phalus berada di bagian bawah perut.
Kaki patung ini hanya tinggal tiga, karena kaki bagian depan sebelah kiri sudah tidak ada. Ketiga kakinya dalam posisi tegak, berbentuk lurus, dan berukuran cukup besar. Secara keseluruhan posisi patung ini miring ke kiri. Patung ini menggambarkan jenis kelamin jantan dengan sangat jelas. Adapun ukuran patung kerbau ini secara keseluruhan : tinggi 106 cm, panjang 155 cm, dan lebar 100 cm.
======================================================================================
*Penulis bekerja di Badan Arkeologi Medan
**Artikel ini sejatinya sebuah paper, judul aslinya :KERBAU DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT MEGALIT/TRADISINYA PADA ETNIS BATAK DI SUMATERA UTARA.
***Artikel ini telah mengalami pengeditan menjadi bersifat ilmiah populer, namun tanpa mengubah sustansinya; dengan maksud agar lebih mudah dicerna oleh pembaca dengan latar belakang yang beragam.

Jumat, 20 Agustus 2010

WAJAH TANJUNGBALAI KINI

Wajah kota Tanjungbalai kini jauh berobah. Disana-sini terdapat berbagai perubahan sejalan dengan usia yang bertambah. Ada yang dirasakan cukup indah tetapi ada yang dirasa seperti hilang. Yang hilang tentu saja tentang keasrian kota, keteduhan,tata kota yang belum benar-benar teratur sebagaimana layaknya tata ruang kota yang menuju kota modern. Bangunan-bangunan monumen seperti tugu atau patung terlihat dikerjakan tanpa sentuhan tangan-tangan terampil dibidang seni, sepertinya pengerjaannya hanya diserahkan kepada orang-orang yang sekedar pekerja bangunan yang biasa membangun rumah-rumah/pemukiman.

Lihat saja tugu bambu runcing yang satu ini, tampak sangat kurang bila ditinjau dari sudut Etika dan Estetika. Menjadi kurang bermakna karena dikerjakan asal jadi tanpa perencanaan yang matang dan pertimbangan misi dan visi. Banyak sekali monument-monument atau tugu-tugu yang kita tak memahami apa isyarat yang ingin disampaikan dari bangunan tsb. Sehingga kesannya apa yang dibangun ini hanyalah bersifat sementara dan dadakan. 


Seperti gambar berikut ini, kesan apa yang hendak disampaikan kulit kerang tersebut juga terasa kabur dan penataan bangunan yang menyertainyapun kurang bisa dimaknai. Jika seandainya Pemerintah kota khususnya Dinas Tata Kota lebih kreatif tentu bangunan-bangunan ini akan lebih tertata, baik tentang letak,bentuk,gaya,warna serta yang terpenting kegunaannya dibangun untuk apa. Agak disesalkan jika dibalik giatnya pemerintah kota membangun berbagai sudut kota ada bangunan bersejarah yang terlupakan bahkan terkesan tidak mendapat perhatian padahal diyakini jika objek tersebut dikelola dengan baik maka aka dapat dijadikan penunjang berkembangnya pariwisata di kota ini. Contohnya Stasiun kereta api yang terbangun sejak zaman kolonial Belanda dulu
padahal situs-situs sejarah di kota ini sangat terbatas karena telah banyak yang punah tinggal hanya beberapa saja tapi sangat disayangkan tidak ada pemeliharaan. Seperti contoh lainnya adalah Mesjid Raya yang bersejarah ini telah terkepung oleh bangunan-bangunan ruko, padahal ditinjau dari segi arsitektur dan bahan bangunan yang digunakan sangat mengagumkan dan letaknya dipusat kota dan dekat dengan bekas pelabuhan antar pulau tentu saja memiliki sejarah tersendiri. Inilah yang dikatakan bahwa Pemko Tanjung Balai tampaknya belum tersentuh oleh kemajuan arsitektur kota yang kini tengah berkembang di kota-kota lainnya. Semoga kedepannya penataan kota tua nan bersejarah ini dapat lebih diperhatikan sehingga dapat berkembang menjadi Kota Tujuan wisata sebab hal ini perlu mengingat sumber pendapatan kota ini juga sangat terbatas. Demi kesejahteraan Rakyat.

SEJARAH PULAU SIMARDAN"

Berbagai kisah dan cerita tentang legenda anak durhaka. Di antaranya, Malin Kundang di Sumatera Barat yang disumpah menjadi batu, Sampuraga di Mandailing Natal Sumatera Utara yang konon katanya, berubah menjadi sebuah sumur berisi air panas. Di Kota Tanjungbalai, akibat durhaka terhadap ibunya, seorang pemuda dikutuk menjadi sebuah daratan yang dikelilingi perairan, yakni Pulau Simardan. Berbagai cerita masyarakat Kota Tanjungbalai, Simardan adalah anak wanita miskin dan yatim. Pada suatu hari, dia pergi merantau ke negeri seberang, guna mencari peruntungan.

Setelah beberapa tahun merantau dan tidak diketahui kabarnya, suatu hari ibunya yang tua renta, mendengar kabar dari masyarakat tentang berlabuhnya sebuah kapal layar dari Malaysia. Menurut keterangan masyarakat kepadanya, pemilik kapal itu bernama Simardan yang tidak lain adalah anaknya yang bertahun-tahun tidak bertemu. Bahagia anaknya telah kembali, ibu Simardan lalu pergi ke pelabuhan. Di pelabuhan, wanita tua itu menemukan Simardan berjalan bersama wanita cantik dan kaya raya. Dia lalu memeluk erat tubuh anaknya Simardan, dan mengatakan, Simardan adalah anaknya. Tidak diduga, pelukan kasih dan sayang seorang ibu, ditepis Simardan. Bahkan, tanpa belas kasihan Simardan menolak tubuh ibunya hingga terjatuh.

Walaupun istrinya meminta Simardan untuk mengakui wanita tua itu sebagai ibunya, namun pendiriannya tetap tidak berubah. Selain itu, Simardan juga mengusir ibunya dan mengatakannya sebagai pengemis.

Berasal Dari Tapanuli
Sebelum terjadinya peristiwa tersebut, Pulau Simardan masih sebuah perairan tempat kapal berlabuh. Lokasi berlabuhnya kapal tersebut, di Jalan Sentosa Kelurahan Pulau Simardan Lingkungan IV Kota Tanjungbalai, kata tokoh masyarakat di P. Simardan, H.Daem, 80, warga Jalan Mesjid P. Simardan Kota Tanjungbalai. Tanjungbalai, terletak di 20,58 LU (Lintang Utara) dan 0,3 meter dari permukaan laut. Sedangkan luasnya sekitar 6.052,90 ha dengan jumlah penduduk kurang lebih 144.979 jiwa (sensus 2003-red). Walaupun peristiwa tersebut terjadi di daerah Tanjungbalai, Daem mengatakan, Simardan sebenarnya berasal dari hulu Tanjungbalai atau sekitar daerah Tapanuli. Hal itu juga dikatakan tokoh masyarakat lainnya, Abdul Hamid Marpaung, 75, warga Jalan Binjai Semula Jadi Kota Tanjungbalai. “Daerah asal Simardan bukan Tanjungbalai, melainkan di hulu Tanjungbalai, yaitu daerah Porsea Tapanuli,” jelasnya.

Menjual Harta Karun
Dari berbagai cerita atau kisah tentang legenda anak durhaka, biasanya anak pergi merantau untuk mencari pekerjaan, dengan tujuan merubah nasib keluarga. Berbeda dengan Simardan, dia merantau ke Malaysia untuk menjual harta karun yang ditemukannya di sekitar rumahnya, kata Marpaung.

“Simardan bermimpi lokasi harta karun. Esoknya, dia pergi ke tempat yang tergambar dalam mimpinya, dan memukan berbagai macam perhiasan yang banyak,” tutur Marpaung. Kemudian, Simardan berencana menjual harta karun yang ditemukannya itu, dan Tanjungbalai merupakan daerah yang ditujunya. Karena, jelas Marpaung, berdiri kerajaan besar dan kaya di Tanjungbalai. Tapi setibanya di Tanjungbalai, tidak satupun kerajaan yang mampu membayar harta karun temuan Simardan, sehingga dia terpaksa pergi ke Malaysia. “Salah satu kerajaan di Pulau Penang Malaysialah yang membeli harta karun tersebut. Bahkan, Simardan juga mempersunting putri kerajaan itu,” ungkapnya.

Berbeda dengan keterangan Marpaung, menurut H.Daem, tujuan Simardan pergi merantau ke Malaysia untuk mencari pekerjaan. Setelah beberapa tahun di Malaysia, Simardan akhirnya berhasil menjadi orang kaya dan mempersunting putri bangsawan sebagai isterinya.

Malu
Setelah berpuluh tahun merantau, Simardan akhirnya kembali ke Tanjungbalai bersama isterinya. Kedatangannya ke Tanjungbalai, menurut Daem, untuk berdagang sekaligus mencari bahan-bahan kebutuhan. Kalau menurut Marpaung, Simardan datang ke Tanjungbalai dilandasi karena tidak memiliki keturunan. Jadi atas saran orang tua di Malaysia, pasangan suami isteri itu pergi ke Tanjungbalai. Lebih lanjut dikatakan Marpaung, berita kedatangan Simardan di Tanjungbalai disampaikan masyarakat kepada ibunya. Gembira anak semata wayangnya kembali ke tanah air, sang ibu lalu mempersiapkan berbagai hidangan, berupa makanan khas keyakinan mereka yang belum mengenal agama. “Hidangan yang disiapkan ibunya adalah makanan yang diharamkan dalam agama Islam,” tutur Marpaung. Dengan sukacita, ibu Simardan kemudian berangkat menuju Tanjungbalai bersama beberapa kerabat dekatnya. Sesampainya di Tanjungbalai, ternyata sikap dan perlakuan Simardan tidak seperti yang dibayangkannya.

Simardan membantah bahwa orang tua tersebut adalah wanita yang telah melahirkannya. Hal itu dilakukan Simardan, jelas Marpaung, karena dia malu kepada isterinya ketika diketahui ibunya belum mengenal agama. “Makanan yang dibawa ibunya adalah bukti bahwa keyakinan mereka berbeda.” Sementara menurut H. Daem, perlakuan kasar Simardan karena malu melihat ibunya yang miskin. “Karena miskin, ibunya memakai pakaian compang-comping. Akibatnya, Simardan tidak mengakui sebagai orangtuanya.”

Kera Putih dan Tali Kapal
Setelah diperlakukan kasar oleh Simardan, wanita tua itu lalu berdoa sembari memegang payudaranya. “Kalau dia adalah anakku, tunjukkanlah kebesaran-Mu,” begitulah kira-kira yang diucapkan ibu Simardan. Usai berdoa, turun angin kencang disertai ombak yang mengarah ke kapal layar, sehingga kapal tersebut hancur berantakan. Sedangkan tubuh Simardan, menurut cerita Marpaung dan Daem, tenggelam dan berubah menjadi sebuah pulau bernama Simardan.

Para pelayan dan isterinya berubah menjadi kera putih, kata Daem dan Marpaung. Hal ini disebabkan para pelayan dan isterinya tidak ada kaitan dengan sikap durhaka Simardan kepada ibunya. Mereka diberikan tempat hidup di hutan Pulau Simardan. “Sekitar empat puluh tahun lalu, masih ditemukan kera putih yang diduga jelmaan para pelayan dan isteri Simardan,” jelas Marpaung. Namun, akibat bertambahnya populasi manusia di Tanjungbalai khususnya di Pulau Simardan, kera putih itu tidak pernah terlihat lagi.

Di samping itu, sekitar tahun lima puluhan masyarakat menemukan tali kapal berukuran besar di daerah Jalan Utama Pulau Simardan. Penemuan terjadi, ketika masyarakat menggali perigi (sumur). Selain tali kapal ditemukan juga rantai dan jangkar, yang diduga berasal dari kapal Simardan, kata Marpaung. “Benar tidaknya legenda Simardan, tergantung persepsi kita. Tapi dengan ditemukannya tali, rantai dan jangkar kapal membuktikan bahwa dulu Pulau Simardan adalah perairan.
(Dikutip dari Kaskus)