Kamis, 14 Maret 2013

Kelahiran Sinaga : Antara Ketakukan dan Mitos


Sianjur Mula-Mula adalah kampung dari Saribu Raja dengan ketiga saudara lelakinya yakni Limbong  Mulana, Sagala Raja dan Silau Raja dengan kelima saudarinya yakin Boru Pareme,  Boru Bidding Laut, Nai Ambaton, Nai Suanon, Nai Rasaon.
Hariara Maranak Situs bersejarah Pomparan Raja Lontung, yang pagarnya sempat dirusak orang tak di kenal beberapa waktu lalu (photo milik: deltapariranews.com)

Di dekat Sianjur Mula-mula itu ada tempat yang bernama Ulu Darat, dimana dipercaya saat itu sebagai hutan keramat. Mitos pusuk buhit menyebutkan bahwa dibawah tempat itulah posisi kepala dari Naga Padoha berada, yang dalam legenda dianggap sebagai penjaga Banua Tonga (Bumi). Ekornya ada di laut setelah di benamkan oleh Boru Deak Parujar (baca Legenda Boru Deak Parujar).

Di hutan inilah tempat persembunyian Saribu Raja dan Boru Pareme yang telah melakukan perkawinan sedarah. Begitulah juga Si Raja Lontung dengan istrinya (yang merupakan ibunya sendiri) Boru Pareme bersembunyi. Dalam bayangan intaian saudara-saudaranya yang menginginkan darah Si Raja Lontung dan Boru Pareme yang sedang hamil juga bersembunyi di daerah itu. Daerah kramat yang dipercaya tidak akan di masuki oleh saudara-saudaranya.
Tidak begitu jelas siapa yang menunjukkan tempat itu, tetapi disitulah lahir Bayi hasil hubungan insect itu. Seorang bayi yang lahir di tempat yang dianggap sangat angker, tempat yang dianggap sebagai kepala tempat peristirahatan Naga Padoha. 

Dan kelahiran bayi itu dianggap sebagai anugrah luar biasa mengingat keramatnya tempat itu, sehingga Raja Lontung memberi nama anak yang aru lahir itu: SINAGA, karena lahir tepat diatas bagian kepala dari peristirahatan Naga Padoha penjaga Banua Tonga (Penjaga Bumi), dan kelahirannya sudah memecahnya Mitos keangkeran tempat istiraha dari Naga Padoha penjaga Banua Tonga.
Akhirnya ketahuanlah telah lahir bayi itu, bayi tak berdosa yang di beri nama: Sinaga, anak dari Siraja Lontung dengan Boru Pareme oleh Limbong Mulana, Sagalaraja dan Silau Raja, maka berencanalah mereka membunuh Si Raja Lontung dan Anaknya Sinaga, dengan alasan untuk memenuhi hukum atau kelakuan Saribu Raja, Si Raja Lontung dan Boru Pareme, yang telah membuat aib besar dikalangan keturunan Guru Teteabulan.

Disinyalir ada kepentingan dari Limbong Mulana atas hak kesulungan dari Guru Teteabulan, meski pada akhirnya teori ini bisa digugurkan karena akhirnya semua keturunan Guru Teteabulan diluar Lontung. Bergabung dan mengangkat Putra kedua Saribu Raja yaitu Raja Borbor sebagai pewaris Utama dari Turunan Guru Teteabulan (Raja Ilontungan) yaitu dengan memberikan hak kesulungan pada keturunan Raja Borbor untuk mempimpin Klan Guru Teteabulan yang selanjutnya dikenal sebagai Nai Marata dan diwariskannya semua peninggalan Saribu Raja pada keturunan Raja Borbor.

Terlihat juga dari Peran Pandita Raja (Pendeta Raja) dari Naimarata yang di pegang oleh Jonggi Manaor yang bermarga Pasaribu (Toba Na Sae - Sitor Situmorang).
Keluarga itu terus bersembunyi paska kelahiran Sinaga, dan tepat sebulan setelah kelahiran Sinaga terdengar lah berita bahwa keluarganya akan datang untuk membunuh mereka lalu mereka meninggalkan daerah itu dan mengungsi jauh melawati Danau kearah Samosir Selatan. Itulah tempat itu diberikan nama Sabulan, karena hanya sebulanlah setelah Sinaga Lahir ditempat itu. 
Dan menurut cerita yang didapat penulis Malau -lah (putra Silau Raja) yang membantu pelarian Raja Lontung, Boru Parema dan Sinaga.
Itulah alasan utama terusirnya marga Malau dari Sianjur Mula-Mula dan mengapa tua-tua  diantara kalangan Raja Lontung ada keinginan dan sebagian malah menempatkan turuna Silau Raja sebagai Hula-Hula dari semua keturunan Raja Lontung. Mengenang jasa dan beban yang ditanggung Malau ketika menyelamatkan Moyang keturunan Si Raja Lontung.

Dalam perjalanannya menyeberangi danau kearah Samosir tibalah dia disuatu tempat yang di kenal saat in sebagai Urat. Siraja Lontung menancapkan tongkatnya dan tumbuhlah pohon dari tongkat itu (dan selanjutnya tumbuh anak pohon itu, maka disebutlah tempat itu sekarang sebagai Hariara Maranak).
Merasa bahwa tempat itu adalah tempat yang terbaik baginya dan keturunanya menetaplah Si Raja Lontung di tempat itu.
Dan Situmorang, Pandiangan,  Naingolan, SimatupangAritonang dan Siregar dan kedua Putrinya: Si Boru Amak Pandan (yang dipersunting oleh Simamora) dan Si Boru Panggabean (Yang dipersunting oleh Sihombing) lahir di Hariara Maranak – Urat tersebut.
Dari Cerita leluhur diatas maka selayaknya kita keturunan Si Raja Lontung dan Sinaga dapat mengambil 3 pelajaran penting bahwa:
  1. Keturunan Si Raja Lontung (terutama Sinaga) punya hutang besar pada Malau (selanjutnya di sebut seluruh keturunan Silau Raja – Malau Raja) , maka selayaknya kita menghormati mereka yang telah menolong moyang kita. Dan menurut beberapa cerita juga Silau Raja juga punya andil dalam menyelamatkan Saribu Raja, Si Boru Pareme dan Si Raja Lontung dan selanjutnya anaknya Malau juga melakukan hal yang sama menolong Si Raja Lontung,  Boru Pareme dan Sinaga.
  2. Bahwa Aib yang telah dilakukan oleh moyang kita bukan lagi hal yang harus kita tutupi atau bahkan kita ulangi, perjuangan dari Moyang kita sehingga Klan Lontung tegak berdiri di Toba yang tidak tunduk pada Siapapun (Toba Na Sae – Sitor Situmorang) adalah jerih perjuangan nenek  moyang kita pastinya dalam kebersamaan dengan semua Pomparan Lontung dalam kesatuan yang kuat dan Kokoh Sejak dulu, menghadapi tekanan dan ancaman di tengah aib itu yang bisa jadi sulit untuk menceritakan lagi, tetapi ingatlah bahwa moyang kita telah melakukan sesuatu untuk yang pastinya luar biasa sehingga kita ada dan bisa berjalan dengan kepala tegak hingga akhir ini.
  3. Sinaga lahir dengan memecahkan mitos keangkeranUlu Darat, tempat Kepala dari Naga Padoha yang sebagai Penjaga Banua Tonga, termasuk penyebab Gempa Bumi, maka ingatlah Semangat bahwa keturuannya juga jadilah pendobrak dari kebuntuan dan ketidakpastian yang ada dalam lingkungannya.
  4. Sinaga adalah putra tertua Si Raja Lontung menurut kelahiran.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar